Resume
Pertemuan ke- 4
Oleh
: Meidawati
Narasumber
: Taufik Hidayat
Tulisanku
kali ini adalah hasil belajarku di program belajar menulis 20 hari, dengan
narasumber hebat, seorang Dosen dan bloger yang sukses. Perjalanannya di hampir
lebih 70 negara mengringi kariernya sebagai seorang dosen dan bloger sukses.
Merupakan keberuntunganku bisa tergabung di kelas ini, mendulang segudang
pengalaman meski tidak semua pengalamann beliau tersampaikan di waktu yang
terbatas ini, kelas WA. Beliau memaparkan tentang Pengalaman Travelling Ke Pelosok Dunia (“Sekitar 70 Negara”)
Pengalamannya
ke pelosok dunia, terhitung sekitar 70 negara sebagian dituliskan dalam blog
dan sebagian lagi khususnya perjalanan ke masjid masjid sudah dibukukan. Buku
berjudul 1001 Masjd di 5 Benua dan Mengembara ke Masjid-Masjid di Pelosok
Dunia merupakan karyanya, buah traveling ke pelosok dunia.
Beliau
mengisahkan tentang cara menulis kisah travelingnya ke seluruh dunia, hingga
bisa menjadi sebuah buku. Kisahnya ditulis dibuku dari hasil perhatiannya dengan
semua yang dilihat, semua yang diperhatikan dicatat dengan detail, dilengkapi
dengan foto-foto hasil jepretannya, dari foto-foto inilah beliau memulai
bercerita.
Tulisannya
juga diperkaya karena beliau memahami Bahasa, budaya dan sejarah setempat. Wow luar biasa ya…..
sepertinya bukan hal yang sederhana untuk memiliki kemampuan itu, tapi karena
beliau pengalaman dengan traveling sehingga semua dapat beliau miliki.
Beliau
juga menulis artikel di berbagai media seperti majalah Intisari , Majalah Angkasa
dan pernah juga Majalah Garuda Colors. Yuk ….
kita kunjungi sebagian artikelnya di link berikut ini….
Beliau
traveling ke pelosok dunia, merupakan bagian dari pekerjaan beliau, tulisan
tentang travelingnya memiliki rumusan khusus yakni kita harus memperhatikan dan
juga mengetahui sekilas mengenai sejarah dan budaya lokal tempat yg dikunjungi
serta mengetahui, sedikit bahasa setempat akan lebih baik lagi.
Berikut
adalah artikel beliau setelah berkunjung ke perbatasan korea utara dan selatan
di Panmunjom, kita klik yuk linknya …..
Artkelnya
mengisahkan bahwa kita bisa melihat
bagaimana sebuah bangsa bisa terbelah dua karena perbedaan politik dan semangat
mereka untuk bersatu kembali. Beliau juga menuliskan artikel tentang Masjid Raya
di Paris, tempat ummat yahudi pernah sembunyikan muslim sewaktu dikejar Nazi
pada saat Perang Dunia II. Link artikelnya semakin menambah semangat kita untuk
belajar menulis, langsung saja yu kita klik linknya dibawah ini:
Pengalaman
yang luar biasa ke luar negeri, tidak melewatkan berkunjungnya ke dalam negeri
sendiri, Masjid di dalam negeri juga tak kalah menariknya, meski bukan ahli
fotografi beliau tidak absen untuk menjepretnya saat beliau berkunjung.
Ketertarikannya dengan tempat ibadah yakni masjid tak melupakan untuk
menulisnya dalam artikel, kita klik yuk link artikelnya, ada apa dengan masjid
di Indonesia ya …
Artikel
tersebut menceritakan masjid tua di Maluku, karena jumlah masjid yang banyak,
beliau menulis tentang masjid yang memiliki keunikan tersendiri. Keunikan yang
beliau ceritakan misalnya tentang keberadaan bangunannya di negara muslim
minoritas atau sejarah dan kisah dibaliknya yang menarik.
Setiap
tulisannya selalu disertakan foto khususnya tentang traveling, karena dengan
foto tulisan jadi lebih hidup, dan dengan foto kita bisa bercerita, misalnya
atap masjid, langit langit, warna karpet, bentuk mihrab, hiasan dinding, jamaahnya
dll, selain itu kita bisa berkenalan baik dengan jamaah atau imam masjidnya.
Menulis
dengan traveling itu lebih banyak sukanya, apalagi perjalanannya dimulai
puluhan tahun lalu sejak muda dan pengalaman
jaman dahulu lebih asyik karena “pake
nyasar segala”, berbeda dengan sekarang, kita tertolong dengan Google Map.
Kisah
beliau menambah semangatku untuk menjadi
penulis, ternyata semua yang kita lihat, kita dengar, kita alami, bisa menjadi
cerita untuk di tulis, tentu dengan dibungkus bahasa yang indah, dan bagi yang
ingin memulai menulis buku, FB beliau bisa kita kunjungi untuk referensi.
FB:0812-9463-0266,
dan jangan lewatkan juga untuk klik link blog beliau berikut ini, dijamin kita
terkesima
Tulisan
beliau yang dikemas dengan cerita santai dilengkapi foto, sangat menginspirasi
kita semua, bahwa dengan gambar kita bisa menghasilkan karya tulis, tentunya
apa yang dilihat dan apa yang dirasakan dapat menambahkan tulisan menjadi
terbumbuhi dan menarik. Selama ini jika kita melihat foto kenangan, kita pun
bisa menulis tapi masih dalam benak, belum sampai digoreskan. Pengalaman beliau
ditulis dengan deras, kemudian disampaikan di kampus-kampus dengan bedah buku,
menambah inspirasi, bagi kita semua khususnya seorang pendidik yang ingin juga
punya karya.
Beliau
memulai menulis dari apa adanya, menulis apa yang kita lihat, misalnya saja
jalan-jalan ke new York lihat abang becak, bisa kita tuangkan jadi tulisan,
silahkan klik link beliau dibawah ini ya ….
Atau
hanya dari sebuah iklan, Jadi sebuah tulisan tentang gaji masinis di moskwa,
akan menambah wawasan kita kalua kita klik link berikut ini:
Menjadi
penulis sukses tentu dengan latiha dan latihan, jadikan menulis itu hobi,
menulis apa saja juga boleh, tentunya
yang positif ya ... bahkan kita bisa
menulis dari percakapan dengan anak anak kita,
Misalnya yang ditulis di link berikut ini
Benua
yang dikunjungipun bisa kita jadikan cerita, seperti yang beliau tulis dalam
link berikut ini:
Perjalanan
safari ke ngorongoro juga menjadi bagian dari yang beliau tulis, boleh di klik
di link berikut ya ….
Sesekali
tulisan kita pada akhirnya bisa jadi iklan lho, misalnya kisah yang saya tulis
di link berikut, tentang kejujuran pedagang di masjid di Chengdu, sekalian
mempelajari sedikit bentuk masjid di Cina yg mirip kelenteng :
Tak
ketinggalan pula cerita buka puasa di Hanoi, juga bisa di buat tulisan, kita
berkunjung yuk…. di link berikut:
Mengunjungi
link beliau kita serasa berjalan keliling dunia, bagaimana dengan link yang
satu ini, ingin tahu?klik linknya ya
Ternyata,
Subhanallah, indahnya masjid di tatarstan
Menulis
memang butuh jam terbang, beliau sejak mahasiswa sudah memulai, sementara aku
saat ini baru memulai, belum terlambat, selagi masih ada kemauan
Tulisan
beliau yang segudang, memberi gambaran bahwa jika ada kemauan yang kuat, suma
bisa dibuat, ini contoh menulis walau bukan tentang perjalanan sekali kali
tulisan hasil wawancara dengan tokoh yang inspiratif, Prof Sarlito almarhum, atau
terinspirasi sebuah lagu rakyat. Kita klik linknya ya
Perjalanan
beliau juga menyajikan banyak kejutan seperti dangdut dan qasidahan di Buenos
Aires, sama dengan yang ada di Indonesia meski dengan versi yang berbeda
Berbicara
tentang masjid beliau juga berbagi kisah yang agak sedih yaitu kisah masjid di
Christchurch yang tahun lalu terjadi penembakan, nah salah satu korban adalah
Lilik Abdul Hamid, almarhum adik kelas beliau dan setiap beliau ke Christchurch
beliau selalu mampir ke rumahnya dan diajak jalan jalan termasuk beberapa kali
sholat Jumat di masjid annur
Setiap
negara memiliki ciri khasnya sendiri, namun beliau menyukai Meksiko, karena
bisa bahasa Spanyol, termasuk negara eks
Soviet seperi Azerbaijan Georgia belarus dan tentu negara negara timur tengah
baik Mesir, Qatar oman.
Dalam
cerita kisahnya beliau menutup dengan mengutip sebuah tulisan di dinding sebuah
masjid di Sharon , sebuah kota kecil di dekat Boston
“Eat and drink,
but do not waste, for Allah does not love those who waste”
(Quran, Chapter
7:31)
Kesuksesan
sesorang tidak diukur dari berapa banyak negeri yang telah dikunjungi, tetapi
dari berapa besar manfaat yang diberikan buat orang lain, kita bisa sukses
dengan cara masing -masing .
Luar biasa bu Mei.....
BalasHapusTulisa penuh semangat
Keren tulisannya
BalasHapusTerimakasih motivasi nya omjay
Hapus