Resume
Pertemuan ke-9
Bahasanya yang santun membuka pemaparannya dalam berbagi ilmu di
program belajar menulis 20 hari dengan Omjay sebagai founder. Beliau adalah
seorang kepala sekolah sekaligus penulis yang memiliki motto Mendidik dengan Hati dan berdakwah dengan
tulisan, nama lengkapnya Sri Sugiastuti, beliau juga seorang penggiat
literasi nusantara. Pengalamannya beliau tuliskan dalam blog ini, kunjungi yuk ….https://astutianamudjono.wordpress.com
Materi beliau tentang Berbagi Proses Menulis Buku dapat di unduh
di link berikut ini.
Perjalanan untuk bisa menulis tidak sedikit menemui kendala, namun
saat kita berusaha untuk menemukan jalan keluarnya, kendala itu pasti bisa
diatasi.
Seorang penulis pernah mengalami “mandeg ide”, baik penulis yang
sudah senior maupun penulis pemula sering mandeg atau macet, tidak bisa
meneruskan lagi, apa yang kita lakukan ketika hal itu terjadi? selama kita
sudah punya offline, punya kerangka apa yang akan kita tulis, di saat itu kita
tinggalkan saja, kita bisa keluar menghirup udara segar, bisa juga mungkin
ngobrol dengan tetangga atau silaturahmi, untuk membuang kejenuhan, tetapi disarankan
tidak berlama-lama, segera kita fokus lagi dan wujudkan target kapan buku itu
harus selesai dan bisa diterbitkan atau masuk ke dapur penerbit.
Keterbatasan waktu juga menjadi kendala, kita hanya punya waktu 24
jam dalam sehari, tetapi mengapa ada juga yang bisa menulis sekian banyak buku?
semua itu karena prinsipnya giat menulis, punya celengan tulisan atau dengan
kata lain banyak sekali tulisan-tulisan yang bertebaran di file, saat ada mood baik kita harus rajin menulis di
blog, di gurusiana atau di komunitas lainnya, lalu mengumpulkan dengan tema
yang ada dan dibawa ke penerbit untuk bisa dibukukan
Kita meski pandai membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, menulis
akan lebih fokus disaat menjelang salat tahajud atau saat menunggu adzan subuh,
bisa dicicil tulisan itu dengan beberapa paragrap, yang tulis di note yang ada
di HP, kalau ada kesibukan lain kita berhenti, nanti saat ada waktu lagi bisa lanjutkan,
tetapi kita sudah menulis terlebih dahulu offlinenya atau garis
besarnya,sehingga kita tinggal mengembangkannya.
Disaat kita kurang konsisten saat menulis, sebaiknya kita jangan
memaksakan diri, cobalah menulis apa yang kita sukai dan apa yang kita kuasai,
dengan mempunyai dua patokan itu Insya Allah kita akan menulis dengan baik, dan
tulisan itu akan mengalir, ada kalanya kita juga merasakan sering blank,
hal ini perlu menambah referensi bacaan yang bisa menunjang tulisan kita
atau meminta masukan dari orang lain.
Permasalahan lain saat menulis misalnya karena adanya rutinitas baik
sebagai guru dan juga sebagai ibu rumah tangga sehingga menjadikan ide untuk
menulis terhenti, hal ini bisa kita siasati misalnya, saat ide ada segera untuk
ditulis, bisa kembangkan dengan cara mapping atau mind map, bisa juga dengan
menggali lagi dengan membaca referensi yang lebih banyak lagi.
Mengikuti jejak seorang penulis ternyata tidak mudah, hal ini
karena menyukai hobi menulis memiliki budaya literasi itu tidak datang
tiba-tiba dan tidak semua orang suka dengan budaya literasi, rata-rata orang
Indonesia itu lebih suka menonton, maka tidak heran kalau film horor sinetron
ataupun berita-berita hoak itu lebih mereka sukai daripada membaca dan menulis.
Niat dan tekad untuk menjadi penulis akan membantu kita memiliki hobi menulis.
Kebiasaan menulis akan mungkin kita manfaatkan dalam menunjang
pembelajaran, kita bisa menulis modul yang referensinya bisa kita ambilkan
dari beberapa buku, kita juga bisa menulis buku hasil dari bedah diary, atau
bedah blog, dengan membuat outline atau sub judulnya, akan sangat membantu
dalam menulis buku, yang selanjutnya bisa kita kirim ke penerbit, untuk bisa
dipublikasikan.
Demikian resume singkat saya, semoga bermanfaat.
Resumer : Meidawati
Narasumber : Sri Sugiastuti
Tanjung Selor, 26 Februari 2020
Narasumber : Sri Sugiastuti
Tanjung Selor, 26 Februari 2020