Minggu, 12 April 2020

HIDUPKAN DARING DI TENGAH BELANTARA

Oleh: Meidawati, S.Pd


Awal mendengar Covid19 mewabah di Wuhan tak pernah bermimpi jika kejadiannya menjalar hingga kepelosok negeri. Kenyataan Covid19  menjadi pandemi wajib kita hadapi. Keberadaannya mengubah seluruh tatanan kehidupan, yang pada akhirnya menjadikan rumah menjadi pusat kegiatan manusia. Bekerja dari rumah, belajar dari rumah sampai ibadahpun di rumah. Manusia dituntut berfikir cerdas, menghadapi tantangan cara hidup yang berubah secara cepat. Pekerja dituntut tetap produktif dalam bekerja, pelajar  diharapkan mampu belajar dengan model jarak jauh, masyarakat dicoba imannya dengan ibadah di rumah. Semua berdo’a dan berjuang bersama-sama, dengan senantiasa berharap pandemi segera berakhir.

Sebagai guru PPKn, tidaklah sedikit kendala saat belajar dengan tatap muka, mulai dari membangkitkan semangat belajar, pengelolaan kelas, memilihkan metode belajar yang tepat sampai praktek dalam kehidupan sehari-hari, terlebih pembelajaran dengan moda daring, yang tidak bisa dekat dengan siswa, fasilitas dan kemampuan tekhnologi yang dimiliki siswa tidak merata serta jaringan internet yang tidak semua tempat mewadahi, sehingga belajar dari rumah membutuhkan kreatifitas dari seorang guru agar pembelajaran tetap berlangsung. Selain dari siswa, kendala kadang dari posisi sebagai guru yang saat dirumah tidak hanya sebagai guru merangkap juga sebagai seorang pengasuh anak. Kondisi ini adalah tantangan bagi seorang guru. 

Ilustrasi cerita berikut ini setidaknya menggambarkan tantangan dalam pembelajaran dengan moda  daring.

Terasa lama mata menatap layar putih, andai mata bisa bicara dia akan mengatakan “aku lelah harus memandangmu hai layar, tidakkah bisa kau akhiri peristiwa ini”, cetus si mata dalam pembelajaran daring, guru menyahut, “nanti dulu, daring ku belum selesai, aku harus menyampaikan laporan kegiatanku ,”siswa pun ikutan menyahut, “iya, hai si mata, aku belum menyelesaikan tugas ku, kamu harus bertahan dulu ya…... tiba-tiba si paket data berteriak, “aku minta makan,” guru pun bertanya, “lho bukannya aku sudah kasih camilan kemarin, sudah habis kah?”, si paket data berkerut dahinya, sambil nada ketus berkata ”kan aku duduk lama menemani mu, aku harus ngemil donk, biar kerjaanmu selesai,” ya udah nanti aku belikan,” jawab guru. Tak ketinggalan siswa pun ikut nimbrung, “oke si paket, entar aku minta uang emak ku, untuk belikan cemilanmu, tapi emak ku di rumah aja gak lagi ke pasar, gimana bisa dapat uang,” gak usah kuatir, berdo’a emak mu dapat rezeki dari presiden,“ guru menimpali keluhan siswa. Sembari berfiki,  guru nasehat, “hai si paket, kalo ngemil didik-dikit saja ya, hemat, kita belum tau kapan si covid pulang,”si paket mengangguk tanda setuju tapi dengan syarat, si paket mengingatkan si mata, “hai si mata, jangan banyak nonton you tube ya, buka wa yang teks saja,”si mata menatap si paket, “iya lah”.

Menjalani pembelajaran daring dengan siswa di dunia maya serasa sunyi di gurun malam, interaksi sungguh terbatas dan ada kalanya rumit untuk meraih hati siswa, membaca sikap siswa, belum lagi mengelola kelas daring sambil mendampingi buah hati di rumah, juga menambah daftar cerita mengajar di dunia maya, pegang HP harus ngumpet, atau cari akal mengalihkan perhatian, buatkan gambar lalu si bocil yang kasih warna, kalo gak, kena bajak si bocil, alamat deh koneksi ke siswa terputus,”. Melaporkan kegiatan pembelajaranpun menjadi menu tambahan dalam administrasi guru dalam pembelajaran daring. Semua dijalani dengan ikhlas, dan selalu berusaha refleksi setelah pertemuan kelas daring. 

Ditengah isu covid-19, dalam pembelajaran daring akhirnya menjatuhkan pilihan dengan menggunakan media blog, sementara untuk komunikasi dengan memanfaatkan WA Group. Pembelajaran daring  yang digunakan yakni  dengan memanfaatkan blog pribadi yang dimiliki oleh siswa. Setiap tugas yang diberikan disarankan untuk  menyimpanya di blog masing-masing. Namun tidak semua siswa dapat melaksanakan, disebabkan karena masih belum terbiasa menggunakan blog. Memang belum ada seumur jagung siswa memiliki blog, itu bisa dimaklumi, sebab gurunya juga baru bangun buka blog yang sekian tahun tidak pernah digunakan, terbangun dari mimpi saat belajar menulis bersama KSGN. 

Untuk mengetahui tugas yang sudah dikerjakan  siswa, cukup dengan mengunjungi alamat blognya yang sudah masuk daftar alamat blog siswa. Siswa harus diperlakukan berbeda karena setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda, baik keterbatasan fasilitas maupun kemampuan tehknologinya. Guru menerima pekerjaan siswa yang ditulis di buku kemudian di foto dan share ke WA Group.

Penugasan kepada siswa lebih pada curah pendapat seputar covid-19, karyanya ditulis ada yang dalam bentuk puisi, artikel maupun pengalaman pribadi. Penugasan tersebut dimaksudkan siswa terampil menyampaikan pendapat secara tertulis, meski  sebagian siswa masih menulis sekedar copy paste, namun sebagai guru tetap mengingatkan karya yang dibuat merupakan karya sendiri, sementara tenggang waktu pengerjaan tugas diberikan selama seminggu atau telah diselesaikan sebelum pertemuan daring berikutnya. Meski sudah diberi waktu pengerjaan yang cukup lama, namun masih saja ada kelas yang hanya 15% dari 18 siswa hadir secara online yang menyampaikan tugasnya, ditunggu kok sepi ya, baru 4 siswa yang mengumpulkan tugas, ada apa dengan siswaku? akhirnya jurus terakhir dengan berfikir positif, oh mungkin paket data habis, jaringan tidak ada, atau kesulitan ngerjain tugas,  kelelahan. Semoga badai corona cepat berlalu, memaksakan?, mengancam?, bukan jalan keluar.” 

Kondisi ini, membawa guru mencoba dengan metode yang lebih sederhana dan praktis yakni siswa cukup menuliskan pendapatnya dengan chating ke WA group. Saat itu siswa diminta untuk mengungkapkan pendapat mereka tentang strategi pemerintah di bidang pendidikan dalam menghadapi pandemi covid-19 yakni mengenai "belajar dari rumah". Siswa diminta untuk menceritakan kendala saat belajar di rumah, serta solusi mereka saat menghadapi kendala tersebut. Hasilnya ada peningkatan, 12 siswa dari 18 siswa yang hadir secara online, mampu mengungkapkan pendapatnya dengan chating ke WA group

Pembelajaran dengan media dan metode apa saja tidak masalah yang utama kompetensi dasar pembelajaran dapat tercapai. Belajar melalui WA group justru lebih efektif, selain siswa sudah sangat familiar menggunakannya, siswa tidak terbebani dengan paket data, jaringan internet  juga sangat bersahabat alias gak lemot.  Kemudahan lain dengan menggunakan WA group, siswa tetap bisa membaca ulang chating diskusi dan tugas yang dibagikan melalui WA group, sehingga siswa yang terkendala dengan masalah jaringan dan paket data yang belum terbeli, masih bisa mengikuti pembelajaran daring, dengan catatan siswa diberi tenggang waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugasnya, dan guru tidak jenuh selalu memotivasi siswa sehingga siswa tidak tertimpa sakit malas.


Bulungan, 11 April 2020

 

BIODATA PENULIS

 

Meidawati, S.Pd  lahir di Rimbo Bujang, 24 Mei 1977. Penulis saat ini bertempat tinggal di Jl. Gapensi Kel. Tanjung Selor Hilir, Kec. Tanjung Selor, Kab. Bulungan Provinsi Kalimantan Utara dengan alamat e-mail hattameidawati@gmail.com dan nomor HP 085251266499.

Menyelesaikan S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Gajah Mada pada tahun 1999 serta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi pada tahun 2003. 

Memulai karier sebagai guru PPKn di SMA Negeri 1 Tanjung Palas, tahun 2004 dengan Alamat Kantor: Jl. Pramuka Kelurahan Tanjung Palas Tengah,  Kec. Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara dengan nomor  (0552) 2025141. 

Pengalamannya sebagai guru memotivasi untuk belajar menulis artikel ilmiah dari hasil penelitian tindakan kelas yang kemudian dimuat pada Jurmal Mitra Guru Lembaga Diklat dan Penelitian Kresna Bina Insan Prima, 2018 serta menyampaikan seminar Hasil Penelitian Tindakan Kelas di kalangan teman sejawat, menulis buku: Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar melalui Model Pembelajaran Teams Games Tournamens, kontributor puisi pada  Buku Antologi Puisi dengan judul Kenangan, Penerbit: Tasik Zona Barokah, Buku Antologi Puisi dengan judul Mimpi dan Puisi, Penerbit: T-Zone Publisher serta Buku Antologi Puisi Anti Korupsi dengan judul Saat BerJuMPA Di KerTas (Sabar Taat Berani Mandiri Peduli Adil Disiplin Kerja Keras Tanggung Jawab Sederhana) Penerbit: Garis Katulistiwa


1 komentar:

SUNSET EKSOTIK DI TEPIAN KAYAN TANJUNG SELOR

Lokasi , atraksi utama, dan keunikan utama yang dimiliki