Selasa, 17 Maret 2020

Belajar Dengan Moda Daring Versus Keterbatasan Fasilitas


Pertemuan ke-21 (16 Maret 2020)
Narasumber     : Wijaya Kusumah (Omjay)
Resumer          : Meidawati



Seorang guru bertanya, "sekolah saya di pelosok  listrik hanya menyala pada malam hari, untuk jaringan internet juga tidak stabil, pembelajaran dalam jaringan mudah-mudahan  bisa kami lakukan jika kondisi listrik sudah 24 jam, atau sinyal internet sudah stabil plus ada bantuan komputer atau minimal tablet lah dari pemerintah, apa yang bisa kami lakukan?" 
Kami Menjawab
1.         Peran guru sangat diharapkan. Karena internet hanya malam, materi yang akan diajarkan di download dulu. Jadi ketika di kelas sudah bisa disampaikan secara off line.
2.        Pembelajaran secara online?karena internet hanya pada malam hari, kita bisa pembelajaran secara online malam hari, itulah kemudahan teknologi, tak ada lagi batasan waktu dan jarak, semua bisa dijangkau, tergantung kreatifitas dan bagaimana kita menyikapi sebuah kekurangan
3.         Saya pernah mendapati kondisi seperti ini, ketika menjadi trainer pembelajaran IT, kondisi listrik dan internet, tetapi Alhamdulillah sinyal HP masih ada untuk tethering (Hotspot), tetapi teruntuk listrik, hanya bisa menyarankan menggunakan energi alam (Panel Surya, Motor DC/Dinamo) untuk menghasilkan listrik selain genset, daerah waktu itu Sinjai Selatan sulawesi selatan, NTB ( Dompu ),
4.            Menurut saya tidak perlu dipaksakan pembelajaran online kalau keadaan tidak memungkinkan. Kasih penugasan rumah saja. Kumpulkan saat masuk sekolah. Mungkin begitu pendapat saya, fokus pada kesehatan, mendukung sepenuhnya program pemerintah tentang korona.
5.            Siapkan amplop materi, serahkan kepada ortunya, berikan satu hari satu amplop tentang materi tersebut dan jadikan project pembelajarannya dan jaga kesehatan
6.       Membuat laporan portofolio, menuliskan menurut bahasa siswa, materi yang telah dibaca, membuat mind map bacaan,  apapun bisa siswa diberikan tugas, dikumpulkan pas ketemu. apabila tak ada sarana listrik...pas ol infokan ke grup siswa.
7.        Membuat laporan  diari setiap hari. di kertas hvs, tanggal 14-31. Tentang  apa yg dipelajari dirumah
8.         Saya teringat materi dari kepala pusat bahasa Gorontalo. Biarkan anak menulis, kalau sudah menulis sudah tentu nilainya 100 karena, memberi arti bahwa dia telah banyak membaca
9.         Gak kebayang, soalnya saya sendiri mboos kuota, kebayang kalo gitu, gimana caranya ya?? Pake pinisi edubox?
10.        Saya akan perjuangkan Sapras tsb ada di daerah saya, Listrik melalui PLN atau kementerian ESDM, Minimal tenaga Surya, Utk internet akan di upayakan antena satelit, Demikian jawaban sementara Om.Jay
11.         Itu tantangan untuk menciptakan sumber listrik mandiri dari tenaga surya (jangka panjang tidak bisa instan)
12.        Menurut pendapat saya, kita tidak usah memaksakan diri untuk melakukan pembelajaran daring bila belum siap.
13.     Baik itu siap dari sarananya (listrik, alat - alat TIK, dan jaringan), dan belum siap karena kompetensi guru dlm menggunakan TIK masih terbatas. Pembelajaran daring adalah salah satu opsi. Bukan satu - satunya.
14.        Menurut saya untuk kebutuhan listrik memang berat, kecuali sudah ada alternatif sumber energi yang tidak bergantung pada pemerintah. Pernah lihat di TV ada wanita pelopor energi alternatif yang sudah keliling dunia, tapi persisnya dari mana lupa. Untuk tablet sebetulnya bisa menggunakan dana bantuan pemerintah yang tahun ini dinaikkan nominalnya. Tentu saja setelah pembiayaan guru honorer sudah terpenuhi secara optimal dan maksimal, dengan catatan tidak ada lagi sulap menyulap SPJ ataupun mark up anggaran/pembelanjaan.
15.           Gunakan wifi tanpa jaringan internet.
16.           Bisa juga dengan metode kaya' kita sekarang di group ini. Kita menggunakan WA Group
17.           Beli genset utk solusi masalah listrik
18.           Usul sarpras surya panel, lebih ekonomois, rakit sendiri lihat di youtube
19.      Tidak semua anak di sekolah saya yang orang tuanya memegang hp android, jadi ketika sekarang ada libur 2 minggu saya kasih tugas tiap hari lewat WA dengan mencantumkan hari dan tanggal dan meminta tolong agar temannya memberitahukan teman yang tidak punya hp tersebut.
20.        Betul, kami yang dipelosok negeri belum ada internet, tahun lalu sudah ada bos afirmasi tapi sampai saat ini belum ada info bos afirmasi cair atau dananya dikembalikan.
21.         Atau temui pemerintah kabupaten, OPD kominfo, ESDM, PLN, Minta saran terbaik dari para ahli disana, saran yang lengkap dan bisa diwujudkan, agar PBM yang diharapkan bisa terselenggara
22.          Anak menulis pakai buku tulis yang ada, biarkan mereka berkarya, apapun tulisan mereka beri penghargaan, berikutnya akan lebih bagus lagi
23.          Menurut saya tetep tidak efektif, apalagi medianya hanya menggunakan chat whatsapp, karena konsentrasi anak akan jauh berbeda dengan ketika tatap muka.
24.       Ajukan proposal untuk program CSR kebeberapa perusahaan, ada beberapa yang mau suport full tentang peningkatan fasilitas sekolah, bahkan sampai proses penjaminan mutu sekolah.
25.    Jika sarana pendukung (listrik, koneksi internet, komputer/laptop) sudah siap langkah selanjutnya adalah mempersiapkan guru yang akan menyampaikan materi secara daring, komunikasikan media apa yang cocok digunakan. Apakah pakai aplikasi e-learning yang sudah ada atau media lain yang dirasa mudah diterapkan
26.         Pembelajaran dalam jaringan saat ini sangat penting diterapkan.trautama untuk situasi tertentu.
27.        Buat form lembar tugas , ala agenda ramadhan, bagikan kepada siswa,  jika tidak ada perangkat
28.       Hal yang saya lakukan mengajukan proposal untuk mohon bantuan kepada pemerintah minimal dinas pendidikan untuk ikut membantu demi kemajuan pendidikkan dan berkualitas.
29.         Siswa bisa belajar computational thinking, materinya ada di buku Informatika yang diterbitkan Penerbit ANDI Yogyakarta
30.         Saya setuju sarana & pra sarana sangat dibutuhkan uuntuk pembelajaran daring apalagi daerah yang belum terjangkau internet perlu dipersiapkan oleh pemerintah/masyarakatnya terlebih dahulu.
31.        Menurut pengamatan dan pengalaman lama, ada 3 cara yang dapat ditempuh yaitu libatkan pemuka kampong,  masyarakat kaya dengan infak wajib 1 HP   untuk mendanai satu rumah warganya yang sekolah, menjalankan sumbangan sukarela ke perantau maluku di luar daerah di perkumpulannya, jangka panjang, pemberdayaan warga kampung sendiri dengan sistem simpanan baja berupa beras genggam atau uang recehan, digabung perpekan lalu dibelikan hp dengan sistem arisan . Cara pertama telah dilakukan oleh pemuka masyarakat  Pandam Gadang Suliki di saat membiayai kuliahnya Tan Malaka ke Belanda, atas usul Bu Horensma, nama yayasan Engkufonds
32.          Apakah siswa sebagian besar punya HP? Jika ya, berikan tugas membuat vlog 5 menit apa saja yg mereka pelajari sesuai materi per hari. Bentuk tugas bisa individu/kelompok. File video dikumpulkan ketika masuk sekolah. Jika tidak: siswa diminta mengumpulkan resume/mind mapping materi per hari di selembar kertas/di buku catatannya.
33.      Saya mencoba menceritakan pembelajaran yang digagas sekolah TK anak saya sekalipun ditempat kami berada saat ini listrik dan jaringan cukup baik, namun kondisi ekonomi yang beragam membuat pembelajaran daring sulit untuk dilakukan. Solusi dari sekolah adalah memberikan cetak tugas kepada orang tua, dan orang tua diminta bekerjasama mengatur ritme belajar siswa. Demikian pengalaman yang saya peroleh dari sekolah anak saya.
34.         Ditempat saya banyak sekolah dan SD, SMP, SMA yang tidak terjangkau oleh sinyal enternit di listrik.. Tetapi ditahun 2019 mereka juga bisa melaksanakan UNBK, dengan adanya kontrak pemda dengan PLN di TELKOMSEL, daerah saya Balangan kaya dengan tambang batubara
35.         Kalau menurut saya, kita harus memperhatikan karakteristik siswa, contohnya di sekolah saya tidak semua siswa punya hp, kadang ada yang punya hp namun paket datanya gak ada, karena perekonomian kita yang berbeda beda
36.          Kita tidak bisa memaksakan satu metode ke semua siswa dan juga kita harus bersikap adil
37.        Apalagi mengingat hanya diliburkan selama 2 minggu, kurang lebih kita hanya kehilangan 2-3  kali pertemuan, biarlah siswa belajar dengan cara mereka sendiri, cukup hanya pemberian tugas untuk memperdalam materi yang telah lalu
38.     Kalau di SD, libur 2 minggu, berarti guru kelas kehilangan 12 pembelajaran (krn 1 hari 1 pembelajaran)
39.        Menurut saya cara yang paling efektif adalah dengan membuat kumpulan lembar kerja peserta didik untuk setiap harinya. karena pengalaman stelah sehari ini mengadakan kelas virtual masih ada beberapa siswa dan orang tua yang belum memberikan perhatian terhadap tugas online yang diberikan.
40.        Saya kab.Balangan, Kalse, Kab. Baru diresmikan, dekat dengan wacana ibu kota pindah, Itu sekitar  30 km dari tempat saya, tempat saya masih banyak masyarakat nya yang tidak tersentuh dengan pendidikan. Aparat dan pegawainya rata-rata pendatang, bahkan hampir semua 80 persen dari jawa
41.         Kebetulan di tempat kami jaringan internet lumayan stabil, tetapi  sarana tidak memadai. Tidak semua wali murid punya HP jadi untuk pembelajaran daring kita kesulitan.  Solusi yg kita ambil  memberikan tugas untuk di kerjakan di rumah.
42.           Menurut saya, saya juga mengajar di daerah yang jaringan boleh dikatakan tidak ada, hal yang saya lakukan adalah saya bekerjasama dengan orang tua, meminta orang tua memantau anaknya dalam belajar, buku belajar saya berikan ke anak, setiap hari anak menulis informasi  penting yang terdapat pada bacaan yg dibacanya dengan bahasa sendiri, sehingga 12 hari libur berarti siswa tetap belajar, namun setiap hari kita kontrol orang tua denga nelfon atau SMS, karena ada sebagian orang tua hp nya tidak ada wa, memang butuh usaha dan pengorbanan, nanti kalo sudah sekolah kita lihat semua tugas siswa, mana yang rasanya kurang dipahami anak, itu yang kita diskusikan.
43.         Menurut saya guru merencanakan dulu tugas yang akan diberikan, dan di share lewat WA.  Jika tidak punya hp diberitahu teman yang rumahnya dekat ( sebagai pendidikan karakter.) Peserta didik mengerjakan tugas, dan dikumpulkan jika sudah masuk sekolah. Jika listrik tidak ada, datang ke tetangga terdekat, dan minta ijin yang punya listrik dan jaringan Wi-Fi, untuk menyelesaikan tugas, karena ekonomi peserta didik berbeda antara satu dengan yang lainnya.
44.       Menurut saya juga tidak perlu dipaksakan mereka untuk belajar, apalagi masih SD, menurut perkembangannya, masa mereka sangat gemar untuk bermaian...apakah efektif jika digunakan metode daring ke mereka?
45.      Kalau di saya tidak efektif. Karena gurunya saja tidak paham tentang pembelajaran daring, sekalipun pakai WA. Apalagi siswanya. Latar belakang orangtua sebagian besar petani, yang  punya hp android dalam satu kelas, paling 2 - 3 orang tua. Anak tidak punya sama sekali.
46.          Anak didik bekerja sesuai hobinya permapel dalam bentuk karya keterampilan jadi dan bentuk laporan tertulis sederhana langkah kerjanya.
47.       Iya kalo daring,  tidak bisa dilakukan didaerah terpencil seperti skolah saya, orang tua saja banyak yang tidak ada android cuma hp tulalit
48.    Metode daringnya lewat WA aja, diberi tugas orangtuanya juga ikut menyimak dan membimbing, kalau anak sudah menyelesaikan tugas dari guru orangtua langsung menandatangani.
49.      Di daerah saya, kebanyakannya buku siswa tidak dibawa pulang oleh siswa. Ada beberapa pertimbangan khusus, termasuk raport juga, disimpan di sekolah.
50.           Belajar sambil bermain saya rasa masih efektif untuk anak di tingkat sekolah dasar.
51.      Betul pak naf, kalau saya sengaja ngasih tugasnya lewat WA biar ortunya juga ikut berpartisipasi karena tugas saya usahakan tiap hari, sejauh ini walau masih satu hari orang tua selalu respon dan menyetor hasil tugas anaknya, tentunya ada tanda tangan ortunya, semoga lancar sampai dua minggu kedepan. Dan ketika nanti masuk tugas anak-anak lengkap
52.       Memberikan tugas sesuai dengan kemampuan dan kondisi siswanya, tidak bisa diterapkan dengan metode yang sama, yang mampu daring kita terapkan dengan daring, yang belum mampu daring kita terapkan dengan papper task. Pengumpulan tugasnya disesuaikan dengan kemampuannya, bisa secara langsung, atau saat masuk sekolah.

Semoga menjadi inspirasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SUNSET EKSOTIK DI TEPIAN KAYAN TANJUNG SELOR

Lokasi , atraksi utama, dan keunikan utama yang dimiliki