Pertemuan ke-21 (16 Maret 2020)
Narasumber : Wijaya Kusumah (Omjay)
Resumer : Meidawati
Seorang guru bertanya, "sekolah saya di
pelosok listrik hanya menyala pada malam
hari, untuk jaringan internet juga tidak stabil, pembelajaran dalam jaringan
mudah-mudahan bisa kami lakukan jika
kondisi listrik sudah 24 jam, atau sinyal internet sudah stabil plus ada bantuan komputer atau minimal tablet lah
dari pemerintah, apa yang bisa kami lakukan?"
Kami Menjawab
1. Peran guru sangat diharapkan. Karena
internet hanya malam, materi yang akan diajarkan di download dulu. Jadi ketika
di kelas sudah bisa disampaikan secara off line.
2. Pembelajaran secara online?karena internet
hanya pada malam hari, kita bisa pembelajaran secara online malam hari, itulah
kemudahan teknologi, tak ada lagi batasan waktu dan jarak, semua bisa dijangkau,
tergantung kreatifitas dan bagaimana kita menyikapi sebuah kekurangan
3. Saya pernah mendapati kondisi seperti
ini, ketika menjadi trainer pembelajaran IT, kondisi listrik dan internet, tetapi
Alhamdulillah sinyal HP masih ada untuk tethering (Hotspot), tetapi teruntuk
listrik, hanya bisa menyarankan menggunakan energi alam (Panel Surya, Motor
DC/Dinamo) untuk menghasilkan listrik selain genset, daerah waktu itu Sinjai
Selatan sulawesi selatan, NTB ( Dompu ),
4. Menurut saya tidak perlu dipaksakan
pembelajaran online kalau keadaan tidak memungkinkan. Kasih penugasan rumah
saja. Kumpulkan saat masuk sekolah. Mungkin begitu pendapat saya, fokus pada
kesehatan, mendukung sepenuhnya program pemerintah tentang korona.
5. Siapkan amplop materi, serahkan kepada ortunya,
berikan satu hari satu amplop tentang materi tersebut dan jadikan project pembelajarannya
dan jaga kesehatan
6. Membuat laporan portofolio, menuliskan
menurut bahasa siswa, materi yang telah dibaca, membuat mind map bacaan, apapun bisa siswa diberikan tugas, dikumpulkan
pas ketemu. apabila tak ada sarana listrik...pas ol infokan ke grup siswa.
7. Membuat laporan diari setiap hari. di kertas hvs, tanggal
14-31. Tentang apa yg dipelajari dirumah
8. Saya teringat materi dari kepala pusat
bahasa Gorontalo. Biarkan anak menulis, kalau sudah menulis sudah tentu
nilainya 100 karena, memberi arti bahwa dia telah banyak membaca
9. Gak kebayang, soalnya saya sendiri mboos
kuota, kebayang kalo gitu, gimana caranya ya?? Pake pinisi edubox?
10. Saya akan perjuangkan Sapras tsb ada di
daerah saya, Listrik melalui PLN atau kementerian ESDM, Minimal tenaga Surya,
Utk internet akan di upayakan antena satelit, Demikian jawaban sementara Om.Jay
11.
Itu tantangan untuk menciptakan sumber
listrik mandiri dari tenaga surya (jangka panjang tidak bisa instan)
12.
Menurut pendapat saya, kita tidak usah
memaksakan diri untuk melakukan pembelajaran daring bila belum siap.
13. Baik itu siap dari sarananya (listrik,
alat - alat TIK, dan jaringan), dan belum siap karena kompetensi guru dlm
menggunakan TIK masih terbatas. Pembelajaran daring adalah salah satu opsi.
Bukan satu - satunya.
14.
Menurut saya untuk kebutuhan listrik
memang berat, kecuali sudah ada alternatif sumber energi yang tidak bergantung
pada pemerintah. Pernah lihat di TV ada wanita pelopor energi alternatif yang sudah keliling dunia, tapi persisnya dari
mana lupa. Untuk tablet sebetulnya bisa menggunakan dana bantuan pemerintah yang
tahun ini dinaikkan nominalnya. Tentu saja setelah pembiayaan guru honorer sudah
terpenuhi secara optimal dan maksimal, dengan catatan tidak ada lagi sulap
menyulap SPJ ataupun mark up anggaran/pembelanjaan.
15.
Gunakan wifi tanpa jaringan internet.
16.
Bisa juga dengan metode kaya' kita
sekarang di group ini. Kita menggunakan WA Group
17.
Beli genset utk solusi masalah listrik
18.
Usul sarpras surya panel, lebih
ekonomois, rakit sendiri lihat di youtube
19. Tidak semua anak di sekolah saya yang
orang tuanya memegang hp android, jadi ketika sekarang ada libur 2 minggu saya
kasih tugas tiap hari lewat WA dengan mencantumkan hari dan tanggal dan meminta
tolong agar temannya memberitahukan teman yang tidak punya hp tersebut.
20. Betul, kami yang dipelosok negeri belum
ada internet, tahun lalu sudah ada bos afirmasi tapi sampai saat ini belum ada
info bos afirmasi cair atau dananya dikembalikan.
21. Atau temui pemerintah kabupaten, OPD
kominfo, ESDM, PLN, Minta saran terbaik dari para ahli disana, saran yang
lengkap dan bisa diwujudkan, agar PBM yang diharapkan bisa terselenggara
22. Anak menulis pakai buku tulis yang ada,
biarkan mereka berkarya, apapun tulisan mereka beri penghargaan, berikutnya
akan lebih bagus lagi
23.
Menurut saya tetep tidak efektif,
apalagi medianya hanya menggunakan chat whatsapp, karena konsentrasi anak akan
jauh berbeda dengan ketika tatap muka.
24. Ajukan proposal untuk program CSR
kebeberapa perusahaan, ada beberapa yang mau suport full tentang peningkatan
fasilitas sekolah, bahkan sampai proses penjaminan mutu sekolah.
25. Jika sarana pendukung (listrik, koneksi
internet, komputer/laptop) sudah siap langkah selanjutnya adalah mempersiapkan
guru yang akan menyampaikan materi secara daring, komunikasikan media apa yang
cocok digunakan. Apakah pakai aplikasi e-learning yang sudah ada atau media
lain yang dirasa mudah diterapkan
26. Pembelajaran dalam jaringan saat ini
sangat penting diterapkan.trautama untuk situasi tertentu.
27. Buat form lembar tugas , ala agenda
ramadhan, bagikan kepada siswa, jika tidak
ada perangkat
28. Hal yang saya lakukan mengajukan proposal
untuk mohon bantuan kepada pemerintah minimal dinas pendidikan untuk ikut
membantu demi kemajuan pendidikkan dan berkualitas.
29. Siswa bisa belajar computational
thinking, materinya ada di buku Informatika yang diterbitkan Penerbit ANDI
Yogyakarta
30. Saya setuju sarana & pra sarana
sangat dibutuhkan uuntuk pembelajaran daring apalagi daerah yang belum
terjangkau internet perlu dipersiapkan oleh pemerintah/masyarakatnya terlebih
dahulu.
31. Menurut pengamatan dan pengalaman lama,
ada 3 cara yang dapat ditempuh yaitu libatkan pemuka kampong, masyarakat kaya dengan infak wajib 1 HP untuk mendanai satu rumah warganya yang
sekolah, menjalankan sumbangan sukarela ke perantau maluku di luar daerah di
perkumpulannya, jangka panjang, pemberdayaan warga kampung sendiri dengan
sistem simpanan baja berupa beras genggam atau uang recehan, digabung perpekan
lalu dibelikan hp dengan sistem arisan . Cara pertama telah dilakukan oleh
pemuka masyarakat Pandam Gadang Suliki
di saat membiayai kuliahnya Tan Malaka ke Belanda, atas usul Bu Horensma, nama
yayasan Engkufonds
32.
Apakah siswa sebagian besar punya HP?
Jika ya, berikan tugas membuat vlog 5 menit apa saja yg mereka pelajari sesuai
materi per hari. Bentuk tugas bisa individu/kelompok. File video dikumpulkan
ketika masuk sekolah. Jika tidak: siswa diminta mengumpulkan resume/mind
mapping materi per hari di selembar kertas/di buku catatannya.
33. Saya mencoba menceritakan pembelajaran
yang digagas sekolah TK anak saya sekalipun ditempat kami berada saat ini
listrik dan jaringan cukup baik, namun kondisi ekonomi yang beragam membuat
pembelajaran daring sulit untuk dilakukan. Solusi dari sekolah adalah
memberikan cetak tugas kepada orang tua, dan orang tua diminta bekerjasama
mengatur ritme belajar siswa. Demikian pengalaman yang saya peroleh dari
sekolah anak saya.
34. Ditempat saya banyak sekolah dan SD,
SMP, SMA yang tidak terjangkau oleh sinyal enternit di listrik.. Tetapi ditahun
2019 mereka juga bisa melaksanakan UNBK, dengan adanya kontrak pemda dengan PLN
di TELKOMSEL, daerah saya Balangan kaya dengan tambang batubara
35.
Kalau menurut saya, kita harus
memperhatikan karakteristik siswa, contohnya di sekolah saya tidak semua siswa
punya hp, kadang ada yang punya hp namun paket datanya gak ada, karena perekonomian
kita yang berbeda beda
36.
Kita tidak bisa memaksakan satu metode
ke semua siswa dan juga kita harus bersikap adil
37.
Apalagi mengingat hanya diliburkan
selama 2 minggu, kurang lebih kita hanya kehilangan 2-3 kali pertemuan, biarlah siswa belajar dengan
cara mereka sendiri, cukup hanya pemberian tugas untuk memperdalam materi yang
telah lalu
38. Kalau di SD, libur 2 minggu, berarti
guru kelas kehilangan 12 pembelajaran (krn 1 hari 1 pembelajaran)
39. Menurut saya cara yang paling efektif
adalah dengan membuat kumpulan lembar kerja peserta didik untuk setiap harinya.
karena pengalaman stelah sehari ini mengadakan kelas virtual masih ada beberapa
siswa dan orang tua yang belum memberikan perhatian terhadap tugas online yang
diberikan.
40. Saya kab.Balangan, Kalse, Kab. Baru diresmikan,
dekat dengan wacana ibu kota pindah, Itu sekitar 30 km dari tempat saya, tempat saya masih
banyak masyarakat nya yang tidak tersentuh dengan pendidikan. Aparat dan
pegawainya rata-rata pendatang, bahkan hampir semua 80 persen dari jawa
41.
Kebetulan di tempat kami jaringan
internet lumayan stabil, tetapi sarana tidak
memadai. Tidak semua wali murid punya HP jadi untuk pembelajaran daring kita
kesulitan. Solusi yg kita ambil memberikan tugas untuk di kerjakan di rumah.
42.
Menurut saya, saya juga mengajar di daerah
yang jaringan boleh dikatakan tidak ada, hal yang saya lakukan adalah saya
bekerjasama dengan orang tua, meminta orang tua memantau anaknya dalam belajar,
buku belajar saya berikan ke anak, setiap hari anak menulis informasi penting yang terdapat pada bacaan yg
dibacanya dengan bahasa sendiri, sehingga 12 hari libur berarti siswa tetap
belajar, namun setiap hari kita kontrol orang tua denga nelfon atau SMS, karena
ada sebagian orang tua hp nya tidak ada wa, memang butuh usaha dan pengorbanan, nanti kalo sudah sekolah kita lihat
semua tugas siswa, mana yang rasanya kurang dipahami anak, itu yang kita
diskusikan.
43.
Menurut saya guru merencanakan dulu tugas
yang akan diberikan, dan di share lewat WA.
Jika tidak punya hp diberitahu teman yang rumahnya dekat ( sebagai
pendidikan karakter.) Peserta didik mengerjakan tugas, dan dikumpulkan jika
sudah masuk sekolah. Jika listrik tidak ada, datang ke tetangga terdekat, dan
minta ijin yang punya listrik dan jaringan Wi-Fi, untuk menyelesaikan tugas, karena
ekonomi peserta didik berbeda antara satu dengan yang lainnya.
44.
Menurut saya juga tidak perlu dipaksakan
mereka untuk belajar, apalagi masih SD, menurut perkembangannya, masa mereka
sangat gemar untuk bermaian...apakah efektif jika digunakan metode daring ke
mereka?
45. Kalau di saya tidak efektif. Karena gurunya
saja tidak paham tentang pembelajaran daring, sekalipun pakai WA. Apalagi
siswanya. Latar belakang orangtua sebagian besar petani, yang punya hp android dalam satu kelas, paling 2 -
3 orang tua. Anak tidak punya sama sekali.
46.
Anak didik bekerja sesuai hobinya permapel
dalam bentuk karya keterampilan jadi dan bentuk laporan tertulis sederhana
langkah kerjanya.
47. Iya kalo daring, tidak bisa dilakukan didaerah terpencil seperti
skolah saya, orang tua saja banyak yang tidak ada android cuma hp tulalit
48. Metode daringnya lewat WA aja, diberi
tugas orangtuanya juga ikut menyimak dan membimbing, kalau anak sudah
menyelesaikan tugas dari guru orangtua langsung menandatangani.
49. Di daerah saya, kebanyakannya buku siswa
tidak dibawa pulang oleh siswa. Ada beberapa pertimbangan khusus, termasuk
raport juga, disimpan di sekolah.
50.
Belajar sambil bermain saya rasa masih
efektif untuk anak di tingkat sekolah dasar.
51. Betul pak naf, kalau saya sengaja ngasih
tugasnya lewat WA biar ortunya juga ikut berpartisipasi karena tugas saya
usahakan tiap hari, sejauh ini walau masih satu hari orang tua selalu respon
dan menyetor hasil tugas anaknya, tentunya ada tanda tangan ortunya, semoga
lancar sampai dua minggu kedepan. Dan ketika nanti masuk tugas anak-anak
lengkap
52. Memberikan tugas sesuai dengan kemampuan
dan kondisi siswanya, tidak bisa diterapkan dengan metode yang sama, yang mampu
daring kita terapkan dengan daring, yang belum mampu daring kita terapkan dengan
papper task. Pengumpulan tugasnya disesuaikan dengan kemampuannya, bisa secara
langsung, atau saat masuk sekolah.
Semoga menjadi
inspirasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar