Pertemuan
ke-20 (3 Maret 2020)
Narasumber : Emi Sudarwati
Resumer : Meidawati
Kita
akan belajar dari kesuksesan sang juara, beliau adalah ibu Emi Sudarwati, juara
pertama inobel kemdikbud tahun 2016. Kesuskesannya sebagai sang juara tidak
lepas dari pengalamannya dalam menulis dan menerbitkan buku. Beliau Guru Bahasa
Jawa di SMPN 1 Baureno, Bojonegoro, Jatim
Bagaimana
prosesnya? Yuk kita ikuti salahsatu ceritanya tentang isi buku terbaru beliau,
dan proses penerbitan Indi.
Pada
tahun 2013. Beliau bergabung dengan
sebuah kelompok penulis di Bojonegoro, namanya PSJB (Pamarsudi Sastra Jawi
Bojonegoro), disana beliau banyak berjumpa dan berkenalan dengan
penulis-penulis senior. Seperti : JFX.
Hoery (Padangan-Bojonegoro), Sunaryata
Soemardjo (Ngimbang-Lamongan), Nono Warnono (Gajah Indah-Bojonegoro), Gampang
Prawoto (Sumberrejo-Bojonegoro), Sri Setyo Rahayu (Surabaya), almarhum Anas AG
(Pemred Radar Bojonegoro-waktu itu), dan
masih banyak lagi yang lainnya. Dari orang-orang hebat di dunia tulis-menulis
itu, akhirnya beliau mendapatkan pencerahan.
Bahwa karya siswa yang sudah terkumpul bisa diterbitkan dengan ISBN
(Internsional Standart Book Nomber).
Pada
awal tahun 2014 ini terbitlah Kumpulan Cerkak karya Emi Sudarwati dan Siswa
SMPN 1 Baureno dengan judul buku LUNG.
Pada penghujung tahun 2014. Kembali
bekerja sama dengan PSJB, beliau menerbitkan buku karya Emi Sudarwati dan Siswa
SMPN 1 Baureno. Tidak berhenti sampai di
situ. Karya-karya ini juga mendapat
sambutan baik dari kepala sekolah, kepala dinas pendidikan, bahkan bupati
Bojonegoro saat itu. Sampai-sampai beliau dan siswa didatangi oleh salah satu
wartawan radar Bojonegoro untuk wawancara.
Alhasil, besoknya tayang di surat kabar Harian Radar Bojonegoro yang
sangat terkenal itu. Dari sana, semua penasaran dengan buku karya siswa
tersebut. Sehingga Toko Buku Nusantara
Bojonegoro banyak diserbu pembeli buku.
Semua ingin membaca dan belajar menulis, serta menerbitkan buku.
Buku
karya Emi Sudarwati dan siswa SMPN 1 Baureno
menjadi inspirasi bagi banyak sekolah.
Bukan hanya di Bojonegoro, namun juga di Kabupaten lain. Sehingga sering
diwawancara wartawan berbagai media, baik cetak maupun on line. Akhirnya bisa
tampil di berbagai media tanpa harus membayar sepeserpun.
Pada
tahun 2015, beliau ditugaskan untuk mengikuti lomba Inobel tingkat
nasional. Awalnya ada rasa tidak percaya
diri. Namun karena Bapak Edy Dwi Susanto
selaku kepala sekolah waktu itu tidak henti memberikan semangat dan
motivasi. Akhirnya beliau mengirimkan
karya inovasi, meskipun dengan setengah hati. Namun tidak disangka, ternyata
dapat panggilan sebagai finalis inobelnas.
Bersama 102 guru dari seluruh Indonesia, penulis diundang ke Jakarta
untuk presentasi. Ternyata bukan hanya
presentasi, tetapi ada ujian tulis juga.
Seusai lomba, seluruh finalis diajak berwisata di dufan. Meskipun belum mendapat juara, namun beliau
sudah cukup bangga, bisa belajar bersama guru-guru hebat dari seluruh tanah
air.
Di
samping itu,beliau juga mendapat rekomemdasi dari PSJB untuk mengikuti
sayembara di BBJT. PSJB adalah
kepanjangan dari Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro. Sedangkan BBJT kepanjangan dari Balai Bahasa
Jawa Timur. Lembaga tersebut, setiap
tahun mengadakan sayembara, yaitu pemilihan sanggar sastra, karya sastra
Indonesia, karya sastra Jawa, dan guru bahasa berdedikasi.
Puji
sukur sebagai ungkapan beliau mendapat anugrah sebagai guru Bahasa Jawa Berdedikasi. Hal ini
disebabkan karena sudah menerbitkan beberapa buku karya sastra siswa. Semua itu
diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi guru-guru lain untuk lebih berinovasi
lagi. Dengan status baru ini, beliau merasa memiliki tanggung jawab moral,
agar lebih giat menularkan virus literasi di manapun juga. Bukan hanya untuk
siswa, namun juga untuk sesama guru. Bukan hanya di Bojonegoro saja, tetapi
sampai ke luar daerah.
Pada
tahun 2016, beliau ditugaskan mengikuti seleksi guru prestasi tingkat Kabupaten
Bojonegoro. Sebenarnya saat itu sudah
untuk yang ke dua kalinya. Karena banyak
guru menolak mengikuti seleksi tersebut, akhirnya beliau ditugaskan lagi. Ternyata tidak sia-sia. Karena bisa menduduki juara ke tiga dari tiga
puluhan peserta. Pada tahun yang sama, beliau kembali mengirimkan karya
inobel. Kali ini bukan atas
inisiatif bapak kepala sekolah, tetapi
keinginan beliau sendiri. Karena
pengalaman tahun 2015 lalu begitu menginspirasi. Kali ini bukan karya baru. Namun karya lama yang diedit, dengan tambahan
sesuai yang diberikan oleh dewan juri.
Alhasil, mendapat juara 1 inobelnas kategori SORAK (Seni, Olah Raga,
Agama, bimbingan Konseling dan Muatan Lokal) Tidak lama seusai lomba, beliau
mendapat panggilan untuk short Course di Negeri Belanda. Belajar sistem pendidikan di negri kaum
penjajah yang super maju itu. Berkunjung
ke dua universitas terbaik, yaitu Windesheim dan Leiden. Juga berkunjung ke sekolah-sekolah terbaik,
yaitu Van Der Capellen dan lain-lain.
Bukan hanya itu, semua peserta diajak berwisata ke Volendam, menyusuri
Kanal Amsterdam dan mampir ke Brussel-Belgia.
Sepulang dari Belanda, masih juga mendapat panggilan workshop menulis jurnal di Kota Bali.
Lagi-lagi,
di samping belajar juga bisa berwisaya keliling kota terindah di negeri
ini. Kali ini, semua peserta mendapat
materi merubah naskah inobel menjadi jurnal.
Tentu ini bukan hal kecil, karena naskah tersebut akan dimuat dalam jurnal
berkelas nasional. Nama jurnalnya adalah
DEDAKTIKA.
Tahun
2017, tidak berhenti sampai di situ.
Beberapa bulan berikutnya.
Beliau diundang untuk mengikuti workshop Literasi di Kota Batam. Tidak ingin melewatkan kesempatan, beberapa
peserta menyempatkan mampir ke negara tetangga, yaitu Singapura. Sehari di kota lion, melahirkan sebuah buku
berjudul Dag Dig Dug Singapura. Bukan aji
mumpung atau apa, hanya tidak ingin melewatkan kesempatan baik. Kapan lagi seorang guru bisa jalan-jalan ke
Singapura, kalau bukan memanfaatkan kesempatan baik tersebut. Kebetulan juga
bertepatan dengan liburan sekolah, jadi sama sekali tidak mengganggu kegiatan
belajar-mengajar di sekolah.
Paska
menyandang predikat juara I inobelnas, beliau belum boleh lagi mengikuti lomba
yang sama. Tentu dalam waktu yang belum
bisa diprediksi. Oleh karena itu,
beliau tidak ingin kesepian. Lalu
mengajak teman-teman alumni finalis inobelnas untuk menulis bersama dalam satu
buku. Penulis menyebutnya dengan istilah
Patungan Buku Inspiratif.
Bukan
hanya karya yang bersifat ilmiah. Namun
dalam grup tersebut juga menerbitkan kumpulan cerita inspiratif, berbagi pengalaman mengajar, kumpulan puisi,
kumpulan pantun dan masih banyak lagi buku-buku lainnya.
Dalam
perkembangan selanjutnya, bahkan bukan hanya menerbitkan buku-buku
patungan. Namun saat ini lebih banyak menerbitkan
SBGI (Satu Buku Guru Indonesia) dan SBSI (Satu Buku Siswa Indonesia).
Tahun
2018, ratusan buku lahir dari group Patungan Buku Guru Inspiratif. Karena sejak tahun 2018 ini lebih banyak
menerbitkan SBGI dan SBSI, maka nama group dirubah, yaitu menjadi Penerbit Buku
Inspiratif (PBI). Beberapa undangan dari
daerah-daerah lain mulai berdatangan.
Misalkan dari Kota Bogor, Sampang, Tuban, Blitar, Lamongan, Yogyakarta
dan lain-lain. Akhirnya penulis
berinisiatif, hanya menerima undangan sebagai narasumber pada hari Sabtu-Minggu
atau Jumat sore.
Sedang
di Bojonegoro sendiri, beliau aktif sebagai Guru Ahli (GA) di Pusat Belajar
Guru (PBG). Setiap saat harus siap
menerima panggilan sebagai pemateri seminar maupun pelatihan. Juga sebagai juri dalam lomba-lomba
guru. Tempatnya bisa di PBG pusat atau
di PBG kecamatan. Selain di PBG, juga penulis juga aktif di PGRI. Yaitu sebagai juri lomba Guru menulis dan
pelatihan meulis buku. Memotivasi
guru-guru Bojonegoro agar lebih inovatif dalam mengajar, dan lebih kreatif
dalam menulis.
Menghimbau
agar guru-guru lebih sering mengirimkan hasil karya ke media. Jangan berharap sekali kirim pasti tayang
atau dimuat. Namun harus bersabar,
terus-menerus mengirim naskah. Lama
kelamaan pasti dimuat juga. Bukan
karena penerbit merasa kasihan, tapi memang pengalaman meulis itu sangat
diperlukan. Dengan terus-menerus
mengirim naskah, berarti sudah terus menerus belajar menulis pula. Dari proses tersebut kita belajar. Belajar meminimalisir kekesalahan.
Tahun
2019, Beliau mengawali terbitnya buku Kado
Cinta 20 Tahun dan Hariku. Karya ini
ditulis berdua dengan suami. Semoga
dengan lahirnya buku tersebut, ikatan pernikahan beliau dengan suami semakin
bahagia. Selanjutnya, di tahun yang sama.
Beliau ingin menerbitkan 2 buku tunggal dan beberapa buku
patungan. Buku tunggal yang pertama
berbahasa jawa, yaitu pengalaman selama
haji dan umrah. Sedangkan buku
tunggal yang ke dua adalah, Menulis dan menerbitkan Buku sampai Keliling
Nusantara dan Dunia. Adapun untuk
patungan, seperti biasa saja, menulis bersama siswa SMPN 1 Baureno dan bersama
group Patungan Buku Inspiratif. Juga
menulis bersama penerbit Pustaka Ilalang, saat ini beliau sedang merintis TBM
Kinanthi di rumah.
Suami
beliau sangat mendukung dan hampir tidak ada kendala yang berarti, bahkan
sampai saat ini, beliau sudah membantu penerbitan 450 lebih buku guru dan siswa
Indonesia. Kerjasama dengan penerbit
Majas Grup (Majas, PM dan DPJ) juga penerbit lainnya.
“Buku adalah bukti
sejarah. Merupakan catatan bahwa kita pernah hidup di dunia ini, oleh karena
itu, mengabadikan diri setiap jengkal perjalanan menjadi sebuah buku. Setiap karya pasti akan menemukan takdirnya
sendiri”
Demikian
resumnya, semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar