Minggu, 08 Maret 2020

Terampil Menulis Kekayaan Menanti


Pertemuan ke 14


Belajar menulis berikutnya bersama Bapak Munif Chatib, Konsultan, Praktisi pendidikan dan penulis buku pendidikan populer. Munif Chatib, lahir tanggal 5 Juli di Surabaya adalah penulis buku best-seller Sekolahnya Manusia, diterbitkan dan di-launching pertama kali di MP Book Point Jakarta pada 2 Mei 2009, bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional. Pada tahun ini juga Munif chatib bertemu dan melakukan seminar bersama gurunya yaitu Bobbi de Porter, penulis buku dahsyat Quantum Learning dan Quantum Teaching di Hall kantor Kementerian Pendidikan.  Hampir seribu guru hadir di ruangan itu. Pengalaman yang mengesankan saat itu, ketika penulis ini membubuhkan tanda tangan bersama Bobbi pada hampir 750 bukunya. Akhirnya Bobbi DePorter juga bersedia memberikan endorsement pada buku selanjutnya, inilah buku-buku karya beliau, dapat kita kunjingi linknya https://munifchatib.com/books/

Pengalamannya sebagai seorang penulis, memotivasi pada kita semua, bahwa kita semua bisa menjadi seorang penulis, karena menulis itu bukan bakat akan tetapi kemampuan yang bisa dipelajari. Beliau menuturkan bahwa kemampuan berbicara/presentasi itu karena beliau seorang guru, tetapi menuangkan dalam sebuah tulisan belum mempunyai kemampuan, beliau benar-benar merasakan ternyata kemampuan berbicara sangat berbeda dengan kemampuan menulis karena itu akhirnya beberapa teman mengusulkan untuk beliau diminta mencari Ghost writer, jadi beliau diminta berbicara kemudian writernya mencatatnya, akhirnya ada satu teman yang punya penerbitan percetakan dan penerbitan yang memfasilitasi selama satu minggu saya bermalam bersama seseorang itu awalnya. 

Ide beliau tentang sekolahnya manusia dan kelasnya manusia itu muncul dari fakta nyata tentang kualitas sekolah di Indonesia. Menurut beliau waktu itu banyak sekolah yang belum mampu menemukan passion siswanya dan sekolah masih banyak yang memilih milih siswanya untuk bisa masuk, siswa harus pintar dan baik.
Untuk alasan passion, terjadi beliau melihat dari pengalaman diri sendiri. Beliua lulusan SMAN yang cukup keren pada masanya. Masuknya susah dan beliau dapat ranking 3 seluruh sekolah, anak pintar, tetapi beliau tidak tahu passion beliau sendiri dan mau kemana harus melanjutkan kuliah, akhirnya ketua kelas beliau melakukan undian dan beliau  dapat di fakultas  Hukum UNIBRA Malang. Beliau diterima dan lulus 5 tahun dapat gelar SH. Jadi pengacara dan setiap kasus beliau kalah, ternyata bukan passionnya. Seandainya sekolah memantik passion siswanya pasti beliau kuliah di FKIP
Tahun 2019, Tempo mengadakan riset 87% mahasiswa baru merasa salah jurusan, ternyata dari dulu sampai sekarang sekolah belum berhasil memantik bakat dan minat siswanya, nah ini dia memang permasalahan di Indonesia sampai saat ini, kita masih terhipnotis dengan nilai pelajaran yang harus baik, tetapi tak memiliki keahlian dan pasionnya, sehingga ketika keluar dari sekolah apa yang dipelajari merasa sia-sia .
Ide beliau tentang sekolahnya manusia dan kelasnya manusia itu muncul, kebetulan beliau dikaruniai seorang putri semata wayang yang berkebutuhan khusus, disleksia dan diakalkulia, ternyata susahnya Bella cari sekolah, tiap tahun tidak naik kelas, beliau melihat ada ketidak adilan di institusi sekolah. Sekolah masih belum education for all. Kisah Bella ini beliau tulis menjadi buku dengan judul Bella Sekolah Tak Perlu Airmata. Perlu formula khusus sekolah yang sesuai kebutuhan dan kecerdasan anak. Sebetulnya formulanya sederhana, dan beliau praktekkan di sekolah beliau School Of Human Cibubur. Alhamdulillah berhasil meskipun banyak paradigma yang harus disamakan. Formulanya hanya 2 teori besar, yaitu
1. Teori humanism sebagai teori belajar yang up-to-date
2. Teori multiple Intelligences sebagai teori kecerdasan yang uptodate

Bahan baku beliau menulis tidak lari dari pengalaman real tentang dua teori besar tersebut. Tahun ini beliau berencana menulis Kurikulumnya Manusia, dan ada salah satu saran jika menghubungkan dengan pendidikan berbasis fitrah. Semoga bisa cepat kelar ya pak….semua karya beliau selama menjadi kepala sekolah sehingga mencurahkan pengalaman sebagai kepala sekolah dalam buku yang belum tuntas yakni menulis buku "Kurikulumnya Manusia"

Passion, menurut beliau adalah gabungan bakat dan minat, dan bakat itulah fitrah, baginya tidak ada anak yang bodoh, setiap anak punya fitrah ilahiyah, untuk peran apa dilahirkan di dunia.

Solusi kita, sekiranya kita tinggal dilingkungan yang masih rendah sekali tentang pemahaman bahwa setiap anak itu unik, sosialisasi akan mengalami kesulitan, kita tak henti-hentinya berbagi dan memberi pengetahuan tentang paradigma tersebut pada setiap komunitas masyarakat.

Lahirnya  buku pertama tak lepas dari respon “dinyiyirin” orang, karena ide yang berbeda dari umumnya, banyak yang pandang sebelah mata, mulai dari judulnya Sekolahnya Manusia, tetapi yang membuat beliau bertahan dan mau belajar menulis adalah support dari almarhum mas Hernowo, “Kata beliau tulisan saya punya karakter yang khas”.

Proses kreatif yang dilakukan beliau dalam menulis Sekolahnya Manusia sehingga menjadi buku yang menginspirasi, diawali dengan mengumpulkan modal berupa Special Moment dalam setiap mengajar di kelas, suka duka sinergi dengan guru, kepsek, yayasan dan orangtua. Inspirasinya juga tak lepas dari almarhum mas Hernowo dalam menulis di acara Teacher Writing Camp di kampus UNJ  Rawamangun, dari Special Moment itulah beliau mencoba mencari referensi-referenisnya, dan referensi-referensi yang beliau dapat justru yang update dan banyak bertentangan dengan referensi-referensi yang sebelumnya. Contoh teori kecerdasan multiple Intelligences yang bebeda dengan yeori kecerdasan sebelumnya IQ dan MI, tetapi ada teori yang baru melengkapi teori sebelumnya, ada yang teori baru menyalahkan total teori sebelumnya dan ada teori baru yang sebelumnya belum ada. MI menyatakan teori IQ tidak valid lagi utk zaman sekarang. Kecerdasan emosi, kecerdasan adversity, spiritual dll melengkapi MI.

Sebagai muslim kita meyakini apa yang ada dalam kitab dan sunnah adalah yang sebaiknya diikuti, hanya karena keterbatasan ilmu sering kali kita bingung memadukan dengan ilmu yang sekarang. Hal ini pernah dirasakan oleh beliau, apalagi saat tahun 2009 kala Sekolahnya Manusia booming, beliau banyak dibilang mengajarkan aliran sesat, sebab teori Multiple Intelligences (MI) itu dari Yahudi, namun ketika beliau tanyakan dengan banyak ustad tentang konsep setiap anak cerdas, dll, justru beliau mendapat banyak referensi di Al Quran dan hadist, apalagi waktu itu beliau masih belajar dengan penemunya Howard Gardner dari Harvad, banyak pertanyaan yang beliau ajukan kepada beliau tentang hubungannya MI dengan islam. Tanggapan Howard tentang korelasi MI dengan Islam, bahwa, setiap manusia yang lahir itu dalam keadaan hanif, hanif ini dapat diartikan punya article, punya makna, tidak sia-sia, mempunyai kecerdasan yang berbeda. Rasulullah SAW, ketika ada kasus banjir di Mekkah dan Hajar Aswat terlempar, Rasulullah saw menggunakan MI sebagai problem solving, Rasulullah SAW, memanggil sahabat-sahabatnya dengan kecerdasannya masing-masing bukan sebaliknya. Sampai dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW menjelaskan makna kecerdasan, yang membuat Howard Gardner kaget, menurut Rasulullah SAW, kecerdasan adalah bagaimana upaya seorang manusia yang selalu ingat akan kematiannya. Beliau ceritakan riwayat-riwayat tersebut kepada Howard Gardner, Respon Howard Gardner “mestinya yang menemukan teori mi bukan saya tapi psikolog islam”

Saat ini buku Sekolahnya Manusia sudah masuk 11 tahun, sampai hari ini terus dicetak bersama buku-buku beliau yang lain, Gurunya Manusia, Orangtuanya Manusia, dll. Pada abad 4.0 yang makin edan ini, pendekatan kita atau sekolah kita untuk memanusiakan manusia makin banyak diikuti orang, jadi sangat relevan, tak ada pendekatan lain selain manusianya itu sendiri sebagai SDM yang perlu disentuh hatinya.

Yuk kita sentuh hati kita dengan pesan motivasi berikut ini …..
“menjadi penulis kaya bukan hanya sekedar kaya materi tapi kaya hati”

Demikian resume singkatnya, semoga bermanfaat.


Resumer                      : Meidawati
Narasumber                 : Munif Chatib
diceritakan oleh           : Wijaya Kusumah (Omjay)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SUNSET EKSOTIK DI TEPIAN KAYAN TANJUNG SELOR

Lokasi , atraksi utama, dan keunikan utama yang dimiliki