Pertemuan
ke 14
Belajar menulis
berikutnya bersama Bapak Munif Chatib, Konsultan, Praktisi pendidikan dan
penulis buku pendidikan populer. Munif Chatib, lahir tanggal 5 Juli di Surabaya
adalah penulis buku best-seller Sekolahnya Manusia, diterbitkan dan
di-launching pertama kali di MP Book Point Jakarta pada 2 Mei 2009, bertepatan
dengan hari Pendidikan Nasional. Pada tahun ini juga Munif chatib bertemu dan
melakukan seminar bersama gurunya yaitu Bobbi de Porter, penulis buku dahsyat
Quantum Learning dan Quantum Teaching di Hall kantor Kementerian
Pendidikan. Hampir seribu guru hadir di
ruangan itu. Pengalaman yang mengesankan saat itu, ketika penulis ini
membubuhkan tanda tangan bersama Bobbi pada hampir 750 bukunya. Akhirnya Bobbi
DePorter juga bersedia memberikan endorsement pada buku selanjutnya, inilah buku-buku
karya beliau, dapat kita kunjingi linknya https://munifchatib.com/books/
Pengalamannya
sebagai seorang penulis, memotivasi pada kita semua, bahwa kita semua bisa
menjadi seorang penulis, karena menulis itu bukan bakat akan tetapi kemampuan
yang bisa dipelajari. Beliau menuturkan bahwa kemampuan berbicara/presentasi itu karena beliau seorang guru, tetapi
menuangkan dalam sebuah tulisan belum mempunyai kemampuan, beliau benar-benar
merasakan ternyata kemampuan berbicara sangat berbeda dengan kemampuan menulis
karena itu akhirnya beberapa teman mengusulkan untuk beliau diminta mencari
Ghost writer, jadi beliau diminta berbicara kemudian writernya mencatatnya, akhirnya
ada satu teman yang punya penerbitan percetakan dan penerbitan yang
memfasilitasi selama satu minggu saya bermalam bersama seseorang itu awalnya.
Ide beliau tentang sekolahnya manusia dan kelasnya manusia itu
muncul dari fakta nyata tentang kualitas sekolah di Indonesia. Menurut beliau
waktu itu banyak sekolah yang belum mampu menemukan passion siswanya dan
sekolah masih banyak yang memilih milih siswanya untuk bisa masuk, siswa harus
pintar dan baik.
Untuk alasan passion,
terjadi beliau melihat dari pengalaman diri sendiri. Beliua lulusan SMAN yang
cukup keren pada masanya. Masuknya susah dan beliau dapat ranking 3 seluruh
sekolah, anak pintar, tetapi beliau tidak tahu passion beliau sendiri dan mau kemana
harus melanjutkan kuliah, akhirnya ketua kelas beliau melakukan undian dan
beliau dapat di fakultas Hukum UNIBRA Malang. Beliau diterima dan lulus
5 tahun dapat gelar SH. Jadi pengacara dan setiap kasus beliau kalah, ternyata
bukan passionnya. Seandainya sekolah memantik passion siswanya pasti beliau
kuliah di FKIP
Tahun 2019, Tempo mengadakan
riset 87% mahasiswa baru merasa salah jurusan, ternyata dari dulu sampai
sekarang sekolah belum berhasil memantik bakat dan minat siswanya, nah ini dia
memang permasalahan di Indonesia sampai saat ini, kita masih terhipnotis dengan
nilai pelajaran yang harus baik, tetapi tak memiliki keahlian dan pasionnya, sehingga
ketika keluar dari sekolah apa yang dipelajari merasa sia-sia .
Ide
beliau tentang sekolahnya manusia dan
kelasnya manusia itu muncul, kebetulan beliau dikaruniai seorang putri
semata wayang yang berkebutuhan khusus, disleksia dan diakalkulia, ternyata
susahnya Bella cari sekolah, tiap tahun tidak naik kelas, beliau melihat ada
ketidak adilan di institusi sekolah. Sekolah masih belum education for all. Kisah Bella ini beliau tulis menjadi buku dengan
judul Bella Sekolah Tak Perlu Airmata.
Perlu formula khusus sekolah yang sesuai kebutuhan dan kecerdasan anak. Sebetulnya
formulanya sederhana, dan beliau praktekkan di sekolah beliau School Of Human Cibubur. Alhamdulillah
berhasil meskipun banyak paradigma yang harus disamakan. Formulanya hanya 2
teori besar, yaitu
1.
Teori humanism sebagai teori belajar yang up-to-date
2.
Teori multiple Intelligences sebagai teori kecerdasan yang uptodate
Bahan
baku beliau menulis tidak lari dari pengalaman real tentang dua teori besar tersebut.
Tahun ini beliau berencana menulis Kurikulumnya
Manusia, dan ada salah satu saran jika menghubungkan dengan pendidikan
berbasis fitrah. Semoga bisa cepat
kelar ya pak….semua karya beliau selama menjadi kepala sekolah sehingga
mencurahkan pengalaman sebagai kepala sekolah dalam buku yang belum tuntas
yakni menulis buku "Kurikulumnya Manusia"
Passion,
menurut beliau adalah gabungan bakat dan minat, dan bakat itulah fitrah, baginya
tidak ada anak yang bodoh, setiap anak punya fitrah ilahiyah, untuk peran apa
dilahirkan di dunia.
Solusi
kita, sekiranya kita tinggal dilingkungan yang masih rendah sekali tentang
pemahaman bahwa setiap anak itu unik, sosialisasi akan mengalami kesulitan, kita
tak henti-hentinya berbagi dan memberi pengetahuan tentang paradigma tersebut
pada setiap komunitas masyarakat.
Lahirnya buku pertama tak lepas dari respon “dinyiyirin” orang, karena ide yang
berbeda dari umumnya, banyak yang pandang sebelah mata, mulai dari judulnya Sekolahnya
Manusia, tetapi yang membuat beliau bertahan dan mau belajar menulis adalah
support dari almarhum mas Hernowo, “Kata
beliau tulisan saya punya karakter yang khas”.
Proses
kreatif yang dilakukan beliau dalam menulis Sekolahnya Manusia sehingga
menjadi buku yang menginspirasi, diawali dengan mengumpulkan modal berupa Special Moment dalam setiap mengajar di
kelas, suka duka sinergi dengan guru, kepsek, yayasan dan orangtua.
Inspirasinya juga tak lepas dari almarhum mas Hernowo dalam menulis di acara Teacher
Writing Camp di kampus UNJ Rawamangun,
dari Special Moment itulah beliau mencoba
mencari referensi-referenisnya, dan referensi-referensi yang beliau dapat
justru yang update dan banyak bertentangan dengan referensi-referensi yang sebelumnya.
Contoh teori kecerdasan multiple Intelligences yang bebeda dengan yeori
kecerdasan sebelumnya IQ dan MI, tetapi ada teori yang baru melengkapi teori
sebelumnya, ada yang teori baru menyalahkan total teori sebelumnya dan ada
teori baru yang sebelumnya belum ada. MI menyatakan teori IQ tidak valid lagi
utk zaman sekarang. Kecerdasan emosi, kecerdasan adversity, spiritual dll melengkapi
MI.
Sebagai
muslim kita meyakini apa yang ada dalam kitab dan sunnah adalah yang sebaiknya
diikuti, hanya karena keterbatasan ilmu sering kali kita bingung memadukan dengan
ilmu yang sekarang. Hal ini pernah dirasakan oleh beliau, apalagi saat tahun 2009
kala Sekolahnya
Manusia booming, beliau
banyak dibilang mengajarkan aliran sesat,
sebab teori Multiple Intelligences (MI)
itu dari Yahudi, namun ketika beliau tanyakan dengan banyak ustad tentang konsep
setiap anak cerdas, dll, justru
beliau mendapat banyak referensi di Al Quran dan hadist, apalagi waktu itu beliau
masih belajar dengan penemunya Howard Gardner dari Harvad, banyak pertanyaan yang
beliau ajukan kepada beliau tentang hubungannya MI dengan islam. Tanggapan
Howard tentang korelasi MI dengan Islam, bahwa, setiap manusia yang lahir itu
dalam keadaan hanif, hanif ini dapat diartikan punya article, punya makna,
tidak sia-sia, mempunyai kecerdasan yang berbeda. Rasulullah SAW, ketika ada
kasus banjir di Mekkah dan Hajar Aswat terlempar, Rasulullah saw menggunakan MI
sebagai problem solving, Rasulullah SAW,
memanggil sahabat-sahabatnya dengan kecerdasannya masing-masing bukan
sebaliknya. Sampai dalam sebuah
riwayat Rasulullah SAW menjelaskan makna kecerdasan, yang membuat Howard
Gardner kaget, menurut Rasulullah SAW,
kecerdasan adalah bagaimana upaya seorang manusia yang selalu ingat akan
kematiannya. Beliau ceritakan riwayat-riwayat tersebut kepada Howard Gardner,
Respon Howard Gardner “mestinya yang menemukan
teori mi bukan saya tapi psikolog islam”
Saat
ini buku Sekolahnya Manusia sudah masuk 11 tahun, sampai hari ini terus
dicetak bersama buku-buku beliau yang lain, Gurunya Manusia, Orangtuanya
Manusia, dll. Pada abad 4.0 yang makin edan ini, pendekatan kita atau sekolah kita untuk memanusiakan manusia
makin banyak diikuti orang, jadi sangat relevan, tak ada pendekatan lain selain
manusianya itu sendiri sebagai SDM yang perlu disentuh hatinya.
Yuk
kita sentuh hati kita dengan pesan motivasi berikut ini …..
“menjadi penulis kaya
bukan hanya sekedar kaya materi tapi kaya hati”
Demikian resume
singkatnya, semoga bermanfaat.
Resumer :
Meidawati
Narasumber :
Munif Chatib
diceritakan
oleh : Wijaya Kusumah (Omjay)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar