Pertemuan
ke- 16
Narasumber : Wijaya Kusumah(Omjay)
Resumer : Meidawati
Belajar menulis hari yang
ke-16 ini jatuh pada hari minggu tanggal 8 Maret 2020, dengan narasumber setia
Omjay, beliau berbagi ilmu dengan sepenuh hati tentang kesuskesannya menjadi
seorang trainer.
Menjadi seorang trainer
dibutuhkan stamina yang luar biasa. Sebab dia bicara dari pagi hingga sore
hari. Dia harus kuat bertahan selama 8 jam dalam sehari bila pelatihannya dari
jam 08.00 sampai 16.00 wib, oleh karena itu menjaga stamina tubuh dengan banyak
berolahraga. Harus bisa mengelola waktu dengan baik dan ingatlah selalu bahwa
menulis itu menyehatkan jiwa dan raga kita. Mereka yg suka menulis akan jauh
dari berbagai penyakit asalkan tahu caranya.
Cara menjaga stamina
tubuh adalah dengan menyayangi istri sepenuh hati dan sepenuh jiwa. dengan begitu
kita berdua saling melengkapi dalam hidup. Jaga stamina anda bersama pasangan
anda. Cinta sejati itu membuat sepasang suami istri tak pernah loyo walaupun
banyak masalah yang dihadapinya.
Mendengarakan perkataan
istri tercinta, maka peserta dan panitia yakin atas profesionalisme kita
sebagai triner. Hali ini pernah dialami Omjay, beliau pernah tak mendengarkan perkataan istri. Waktu itu beliau dan
pak dedi diminta mengisi materi PTK di bekasi. Beliau tidak mau sarapan pagi. Padahal istrinya sudah
bikin nasi goreng yang lezat dan telor ceplok yang nikmat. Di saat memberi
materi beliau merasa berkunang kunang. Untung saja pak dedi lansung tanggap.
Beliau dimintanya untuk duduk saja dan beristirahat. Pak dedi dwitagama yang
ambil alih semuanya di SMAN 1 tambun bekasi. Kesempatan itu beliau gunakan
untuk sarapan pagi di kantin sekolah. Setelah sarapan beliau sudah tidak lagi
kunang-kunang dan menjadi terang
kembali, tak terasa kami mengisi materi sampai sore hari. Semua peserta senang
dan panitianya juga senang. Pulang mengisi materi kami diberi amplop berwarna
putih dan ada bayangan uang kertas berwarna merah lumayan tebal.
Ciptakanlah kebiasaan
harian untuk sukses. Sekitar 22 tahun yang lalu, beliau mendapatkan pelajaran
penting untuk sukses, yaitu sukses itu
konsistensi. Sukses itu tidak selamanya tergantung pada kuantitas, tapi ia
memerlukan konsistensi. Sukses itu
tidak selamanya memerlukan kerja besar dan cita cita besar, tapi lebih
memerlukan pembiasaan kebiasaan harian yang mudah tapi dilakukan seumur hidup.
Pembiasaan itu misalnya:
Buatlah keputusan untuk
membangun kebiasaan harian yang rutin, tanpa membebani pikiran dengan
kesuksesan besar.
Contoh :
*Tak perlu membebani
pikiran dengan keinginan menghafal Al-Qur'an 30 Juz, tapi mulailah menghafal
beberapa Ayat setiap hari, atau dua Ayat setiap hari, atau bahkan walaupun
hanya satu Ayat setiap hari.
*Tak perlu membebani
pikiran dengan keinginan untuk mengembalikan bentuk tubuh yang ramping, tapi
mulailah mengkhususkan waktu 30 menit setiap hari untuk berolah raga.
*Tak perlu membebani
pikiran dengan keinginan untuk menguasai ilmu tertentu, tapi mulailah kebiasaan
membaca buku tentang ilmu itu, beberapa halaman setiap hari.
*Tak perlu membebani
pikiran dengan menjalankan diet ketat untuk menurunkan berat badan sampai 30 kg
dalam 2 bulan, tapi mulailah membangun pola makan yang sehat dan pola hidup
yang sehat setiap hari.
Usia kita semua berlalu
dengan cepat.
Kalau kita merutinkan
kebiasaan sukses setiap hari, walaupun sederhana dan mudah, insya Allah, kita
akan sangat heran dengan kesuksesan yang kita capai setelah satu tahun atau dua
tahun yang akan datang. Kita tidak sekedar mewujudkan impian kita selama ini,
tapi kita mencapai kesuksesan yang jauh melebihi apa yang kita impikan. Kita
saja akan terheran heran, apalagi orang lain.
Coba bayangkan bahwa kita
menetapkan untuk mengkhususkan 75 Menit (1 jam 15 menit) setiap hari untuk
empat kebiasaan harian :
o
15 menit khusus untuk menghafal Al-Qur'an.
o
30 menit khusus untuk joging.
o
menit khusus untuk membaca buku yang
membahas ilmu tertentu, untuk pengembangan diri.
o
15 menit khusus untuk -misalnya- mempelajari Bahasa Asing.
Insya Allah, beberapa
tahun kemudian, yang akan berlalu dengan sangat cepat, kita akan heran bahwa
kita sudah hafal Al-Qur'an 30 Juz, kita juga sudah mencapai bentuk tubuh yang
atletis, kita juga sudah membaca puluhan buku yang berkualitas, kita juga sudah
menguasai Bahasa Asing yang kita pelajari. Semua itu bisa kita capai dengan
hanya menyisihkan 1 Jam 15 menit setiap hari. Sangat singkat sekali, karena
selain itu, kita masih punya waktu 22 Jam 45 menit setiap hari.
Sukses itu secara
sederhana, memerlukan kebiasaan sukses setiap hari. Kesuksesan harian itu
bertumpuk dan menyatu menjadi sukses
besar yang melampaui impian semula.
Ringkasan tulisan ini
ialah : "Sesungguhnya amal yang paling disenangi oleh Allah ialah “amal
yang paling rutin, walaupun sedikit". Itulah yang disabdakan oleh Nabiyyul
Ummah, Nabi Muhammad -Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam- sebagaimana yang
diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
(Kebiasaan menyebarkan
tulisan yang bermanfaat, salah satu amal yang penting untuk kita rutinkan
dengan niat ikhlas)
Diterjemahkan
oleh: Dr. Muzakkir M. Arif
Minum madu dan hasilnya
dahsyat sekali. Stamina selalu sehat dan bisa membagi waktu untuk membaca dan
menulis. Sebab keduanya seperti makan dan minum. Bila tak makan dan minum akan
kelaparan, begitu pula bila tidak membaca. Kita akan kehilangan kata-kata.
Sebab mereka yg bisa menulis karena rajin membaca. Rabun membaca lumpuh
menulis. Begitulah pesan dari penyair terkenal Taufik Ismail. Kita punya waktu yang sama, 24 jam. Kesuksesannya
karena beliau mampu membaginya dalam 3 waktu. Dunia nyata, dunia maya dan dunia
mimpi. Kita harus membaginya secara proporsional. Waktu di dunia nyata jelas
harus lebih banyak daripada dunia maya dan dunia mimpi. Kalau ketiga waktu itu
bisa kita kelola dengan baik, maka kita akan sukses dunia dan akhirat seperti
artikel berikut omjay berikut ini.
Kesuksesannya sebagai
trainer juga karena didukung atasan beliau asalkan tidak meninggalkan kelas.
Oleh karena itu beliau terbiasa menerima undangan sebagai trainer ketika hari
sabtu dan minggu atau setelah pulang sekolah, sehingga tidak meninggalkan
kewajiban beliau sebagai guru. Menjadi trainer itu harus mampu memberikan
contoh dan keteladan yang baik. Pimpinan sekolah senang, istri di rumah juga
mendukung. Beliau selalu berkomunikasi dulu dengan istri ketika menerima undangan
sebagai trainer. Ketika istri kita ikhlas dan ridho melepaskan kepergian kita,
maka rezeki akan lancar dan tidak ada yang merasa dirugikan. Beliau tidak
melupakan untuk membawakan oleh-oleh
buat pimpinan sekolah dan rekan sejawat sehingga mereka juga senang
mendengarkan ceritanya dan bisa pergi dari kota ke kota.
Semua orang didasar
hatinya yang terdalam pasti ingin sukses, beliau meyakini bahwa lewat tulisan
seseorang bisa melesat jauh menembus ruang dan waktu, ketajaman hati dan
perasaan dapat dituangkan lewat pena
“Menjadi
trainer adalah pilihan hidup. Oleh karena itu hiduplah dengan memberi sebanyak
banyaknya. Bukan menerima sebanyak banyaknya”. Itulah
pesan pak Harfan dalam film Laskar Pelangi.
Demikian, resume singkatku, semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar