Pertemuan
ke-18
Narasumber : Much. Khoiri
Resumer : Meidawati
Belajar
menulis pertemuan ke-18, dilaksanakan Hari Senin, 10 Maret 2020, dengan
narasumber Bapak Much. Khoiri, beliau seorang penulis sukses yang tak terlepas
dari suka dukanya saat menulis sampai dengan menerbitkan buku, Beliau menulis
buku baru sejak tahun 2011, akan tetapi menulis di media massa sejak tahun
1986/1987, yakni ketika beliau masih kuliah semester 3.
Buku
pertama adalah antologi cerpen, beliau sebagai editornya dan sekaligus salah satu penulisnya. Judulnya Ndoro, Saya Ingin Bica. diterbitkan oleh
Penerbit Indie. Kemudian, pada tahun berikutnya beliau menggarap 3-4 buku,
karena bertepatan Pelatihan Menulis Indonesia
Menulis wilayah Jatim dengan peserta 276.
Tahun
berikutnya beliau menerbitkan buku mandiri dan antologi, setiap tahun hampir
3-5 judul, di penerbir mayor seperti Elex Media Komputindo dan Genius Media Seeta
Unesa Umjversity Press, maupun Indie semisal Satu kata, Pagan Press, dsb. Hingga
sekarang ada sekitar 42 buku yg sudah diterbitkan, serta menjadi editor pada belasan
buku orang lain, hingga buku diterbitkan
terbit.
Beliau
orang produktif dalam menulis, sejak beliau muda, beliau sudah terbiasa menulis
hampir setiap hari. Saat mahasiswa,
akhir tahun 1980-an, ketika masih kuliah, beliau menulis ke koran rata-rata dua
puluh artikel.
Saat
muda beliau berjuang habis-habisan, masih memakai mesin tik, belum ada
komputer. Bisa dibayangkan, bagamana repotnya kita menulis 20 artikel per
bulan, dan yang dimuat hanya sekitar 4 sampai 5 tulisan.
Menulis
buku sejatinya tidaklah mudah, tapi perlu perjuangan tertentu. Tentu, jika kita
menulis buku yang bagus, itu yang sulit. Harus berjuang, membaca yang banyak,
merenung, menuangkannya, merevisi, dan seterusnya hingga terbit, lebih mudah
menulis artikel di koran, kalau sama-sama dihadapkan dengan media terbitnya,
karena dari kuantitas, buku itu jauh lebih banyak jumlah halamannya dibanding
artikel. Buku bisa disusun dari artikel yang sudah terbit di koran.
Kita
boleh mengambil artikel beberapa orang dirangkai dan beri bumbu dari kita untuk
menulis sebuah buku, tetapi harus seizin para penulis. Itu namanya buku
antologi. Artikel penulis hakikatnya merupakan book chapter.
Jika
dibilang menulis ke koran itu sulit, karena Teras korannya nasional. Itu sama dengan
jika kita menembus penerbit mayor nasional, juga sangat sulit. Beliau dulu juga
kenyang ditolak redaktur koran,
terutama koran nasional dan internasional, namun, sekarang relatif tidak
ditolak, relatif mulus. Karena beliau sudah tahu apa yang mereka mau, kita
harus mengikuti selera koran, misalnya, topik actual, analitis, perspektif
berbeda atau unik, bahasanya popular, pahami "misi" koran tsb. Ikuti
hal-hal teknis semisal jumlah huruf, NPWP, KTP, dsb.
Biasanya
rentang waktu penerbitan dari satu ke lain penerbit minimal 2 tahun. Selain itu,
perlu memberi tahu penerbit Indie tsb tentang niat mau ke mengirimkan revisi
bukunya ke penerbit mayor
Jika
telah terbiasa, menulis apapun akan lancar, karena menulis itu keterampilan,
semakin banyak dilatih, akan semakin fasih atau ahli di dalamnya, dengan niat
dan komitmen yang kuat, itu yang akan jadi. Banyak orang berguguran di dalam
proses menulis, karena kurang kuat niat dan komitmennya. Mereka yang
komitmennya kuat, yang akhirnya kuat menghadapi berbagai cobaan dan kendala,
yang penting bukan berapa kali kita jatuh karena berbagai masalah atau kendala,
melainkan berapa kali kita bangkit atau bangun lagi untuk mengatasi masalah yang
ada.
Suka
duka menulis buku hakikatnya juga sama dengan suka dukanya menulis ke media
massa. Hanya saja, menulis buku itu sebuah proyek besar, jauh lebih besar daripada
menulis artikel opini, feature, cerpen atau puisi. Jadi, menulis buku itu
risikonya lebih besar daripd menulis opini dsb. Sebaliknya, rewardnya jauh lebih
besar daripada menulis ke media massa.
Sukanya
tentu sudah banyak, ternyata, menulis itu selain mendatangkan kebahagiaan, ia juga
memberi tanbahan uang saku, terlebih, jika bukunya banyak dan laris. Beliau
juga bisa jalan-jalan ke LN, ke Amerika (1993) dan Hong Kong (1996), beliau diberangkatkan
oleh dunia menulisnya, juga keliling Indonesia berkat buku dan karyanya.
Salam literasi, Sukses
selalu.
Demikian
resume singkatnya, semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar