Selasa, 10 Maret 2020

Menulis dan Menerbitkan Buku Versus Kenangan Suka Duka


Pertemuan ke-18

Narasumber     : Much. Khoiri
Resumer          : Meidawati


Belajar menulis pertemuan ke-18, dilaksanakan Hari Senin, 10 Maret 2020, dengan narasumber Bapak Much. Khoiri, beliau seorang penulis sukses yang tak terlepas dari suka dukanya saat menulis sampai dengan menerbitkan buku, Beliau menulis buku baru sejak tahun 2011, akan tetapi menulis di media massa sejak tahun 1986/1987, yakni ketika beliau masih kuliah semester 3.

Buku pertama adalah antologi cerpen, beliau sebagai editornya  dan sekaligus salah satu penulisnya. Judulnya Ndoro, Saya Ingin Bica. diterbitkan oleh Penerbit Indie. Kemudian, pada tahun berikutnya beliau menggarap 3-4 buku, karena bertepatan Pelatihan Menulis Indonesia Menulis wilayah Jatim dengan peserta 276.

Tahun berikutnya beliau menerbitkan buku mandiri dan antologi, setiap tahun hampir 3-5 judul, di penerbir mayor seperti Elex Media Komputindo dan Genius Media Seeta Unesa Umjversity Press, maupun Indie semisal Satu kata, Pagan Press, dsb. Hingga sekarang ada sekitar 42 buku yg sudah diterbitkan, serta menjadi editor pada belasan buku orang lain,  hingga buku diterbitkan terbit.

Beliau orang produktif dalam menulis, sejak beliau muda, beliau sudah terbiasa menulis hampir  setiap hari. Saat mahasiswa, akhir tahun 1980-an, ketika masih kuliah, beliau menulis ke koran rata-rata dua puluh artikel.

Saat muda beliau berjuang habis-habisan, masih memakai mesin tik, belum ada komputer. Bisa dibayangkan, bagamana repotnya kita menulis 20 artikel per bulan, dan yang dimuat hanya sekitar 4 sampai 5 tulisan.

Menulis buku sejatinya tidaklah mudah, tapi perlu perjuangan tertentu. Tentu, jika kita menulis buku yang bagus, itu yang sulit. Harus berjuang, membaca yang banyak, merenung, menuangkannya, merevisi, dan seterusnya hingga terbit, lebih mudah menulis artikel di koran, kalau sama-sama dihadapkan dengan media terbitnya, karena dari kuantitas, buku itu jauh lebih banyak jumlah halamannya dibanding artikel. Buku bisa disusun dari artikel yang sudah terbit di koran.

Kita boleh mengambil artikel beberapa orang dirangkai dan beri bumbu dari kita untuk menulis sebuah buku, tetapi harus seizin para penulis. Itu namanya buku antologi. Artikel penulis hakikatnya merupakan book chapter.

Jika dibilang menulis ke koran itu sulit, karena Teras korannya nasional. Itu sama dengan jika kita menembus penerbit mayor nasional, juga sangat sulit. Beliau dulu juga kenyang ditolak redaktur koran, terutama koran nasional dan internasional, namun, sekarang relatif tidak ditolak, relatif mulus. Karena beliau sudah tahu apa yang mereka mau, kita harus mengikuti selera koran, misalnya, topik actual, analitis, perspektif berbeda atau unik, bahasanya popular, pahami "misi" koran tsb. Ikuti hal-hal teknis semisal jumlah huruf, NPWP, KTP, dsb.

Biasanya rentang waktu penerbitan dari satu ke lain penerbit minimal 2 tahun. Selain itu, perlu memberi tahu penerbit Indie tsb tentang niat mau ke mengirimkan revisi bukunya ke penerbit mayor

Jika telah terbiasa, menulis apapun akan lancar, karena menulis itu keterampilan, semakin banyak dilatih, akan semakin fasih atau ahli di dalamnya, dengan niat dan komitmen yang kuat, itu yang akan jadi. Banyak orang berguguran di dalam proses menulis, karena kurang kuat niat dan komitmennya. Mereka yang komitmennya kuat, yang akhirnya kuat menghadapi berbagai cobaan dan kendala, yang penting bukan berapa kali kita jatuh karena berbagai masalah atau kendala, melainkan berapa kali kita bangkit atau bangun lagi untuk mengatasi masalah yang ada.

Suka duka menulis buku hakikatnya juga sama dengan suka dukanya menulis ke media massa. Hanya saja, menulis buku itu sebuah proyek besar, jauh lebih besar daripada menulis artikel opini, feature, cerpen atau puisi. Jadi, menulis buku itu risikonya lebih besar daripd menulis opini dsb. Sebaliknya, rewardnya jauh lebih besar daripada menulis ke media massa.

Sukanya tentu sudah banyak, ternyata, menulis itu selain mendatangkan kebahagiaan, ia juga memberi tanbahan uang saku, terlebih, jika bukunya banyak dan laris. Beliau juga bisa jalan-jalan ke LN, ke Amerika (1993) dan Hong Kong (1996), beliau diberangkatkan oleh dunia menulisnya, juga keliling Indonesia berkat buku dan karyanya.

Salam literasi, Sukses selalu.

Demikian resume singkatnya, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SUNSET EKSOTIK DI TEPIAN KAYAN TANJUNG SELOR

Lokasi , atraksi utama, dan keunikan utama yang dimiliki